Journal of Life

Efisiensi Konversi Energi

Catatan : Lama tulisan ini saya posting dalam sebuah milis beberapa tahun yang lalu, dahulu ceritanya ada seseorang yang berharap akan adanya sumber energy yang memiliki efisiensi > 1, Lalu secara spontan saya jawab tidak mungkin! dan melanggar sunnah kauniyah, seseorang lain menganggap jawaban spontan saya itu sebagai hal yang terlalu berani dan jauh dari nilai-nilai thawadu

Maka saat itu saya mencoba menjelaskan nya melalui tulisan yang berjudul Efisiensi Konversi Energi ini . Mempertimbangkan juga karena aktualnya permaslahan ini setelah ramai didiskusikannya tentang Blue Energy yang menghebohkan itu, maka saya tampil ulang kan di blog ini dengan beberapa pengeditan yang disesuaikan dengan bahasa blog. Selamat Membaca!

Saya mencoba berbagi sedikit untuk merefresh ingatan kita semua ttg termodinamika. Begini penuturan saya ya.. Semoga dari sini memang benar-benar bisa dicarikan peluang proses dengan effiensi diatas 1.

Salah satu cabang dari sains dan ilmu rekayasa yang cukup intensif mengkaji masalah konversi energy ini adalah Thermodinamika. Yang dari kajian rekayasa ini dilahirkan sebuah besaran “efisiensi” terutama ketika mengagas proses perubahan dari sebuah bentuk energi ke bentuk energi yg lain. Ilmu ini kemudian sangat bermanfaat dalam dunia rekayasa, terutama bagi kehidupan kemanusiaan.

Dalam sebuah proses konversi dari bentuk kalor ke mekanik misalnya. Dimana proses perpindahan kalor terjadi dari reservoir panas ke reservoir dingin. Lalu di tengah perjalanan kalor itu sebagiannya “dicuri” untuk menggerakkan turbin.

Konservasi energy dirumuskan dalam formula :
Qh = W + Qc

Dimana :
Qh = Reservoir Panas (hot)
W = Kerja yg dihasilkan
Qc = Reservoir Dingin (cold)

Dari sini Effisiensi kemudian dirumuskan sebagai rasio antara Output yg diinginkan dengan Energi masukkan. Yang secara matematis ekspresinya sbb:

Eff = W/Qh

dengan operasi aljabar sederhana diturunkan lagi menjadi

Eff = (Qh – Qc)/Qh

Karena besaran Q (kalor) adalah besaran yg sangat ditentukan oleh Temperature maka ekspresi kalor bisa di ubah kedalam ekspresi temperature:

Eff = (Th – Tc)/Th = 1 – Tc/Th

Nah disini kita berurusan dengan rasio Tc/Th yg nilainya diantara 0 dan 1. Kenapa?, ya karena sudah menjadi logika dasar yg embedded dalam kepala manusia untuk memahami bahwa yg namanya Temperatur Tinggi selalu lebih tinggi daripada Temperatur rendah :) .

Sebenernya, untuk orang yang punya curiousity lebih, ada kesempatan besar untuk membuat effisiensi = 1, yaitu dengan cara membuat Tc=0 atau Th=~. Perbedaan suhu yg semakin ekstrim antara Tc dan Th akan menghasilkan efisiensi yg mendekati satu.

Nah untuk itu harus ada proses rekayasa tersendiri yg mengkondisikan reservoir dingin dan panas itu berada pada perbedaan suhu yg sangat jauh. Dan nampaknya kita perlu suntikkan tambahan energi yg tidak sedikit, sehingga hitung-hitungan effisiensinya juga jadi beda lagi. Mengapa?, karena energi masukkannya, selain dateng dari reservoir panas juga dari kerja yg kita berikan untuk pengkondisian sistem nya.

Memang Ada konseptualisasi untuk kondisi ideal dari sebuah proses konversi energi, dimana sebuah perubahan dari bentuk energi awal ke bentuk energi hasil (yg lebih bisa dimanfaatkan) berjalan sempurna alias effisiensi = 100%. Mesin yang memiliki eff = 1 ini dinamakan mesin Carnot.

Tapi mesin ini sampai sekarang tidak lebih hanyalah sekedar konseptualisasi, dan tidak pernah menjadi real. Karena syarat berlakunya sedemikian mustahil terjadi dalam arena permainan dimana manusia ditakdirkan hidup, berkembang biak, dan bermasyarakat dengan manusia lainnya.

Kalau mau, kita juga bisa bermain di syarat-syarat ini jika menghendaki eff=1. Coba perhatikan syarat terjadinya siklus Carnot ini pada kasus piston yg digerakkan ekspansi dan kompresi.

  • Batas sistem yg sempurna, Sehingga tidak ada atom yg melarikan diri dari fluida kerja apakah itu pada saat piston mengembang atau saat piston melakukan kompresi.
  • Pelumasan sempurna, sehingga TIDAK ADA komponen friksi sekecil apapun.
  • Syarat Gas ideal untuk fluida kerja harus terpenuhi.
  • Piston bergerak maju dan mundur berulang2, dalam sebuah siklus isotermal dan proses ekspansi/kompresi nya adiabatic seperti gbr dibawah..
    • Isotermal (segmen AB dan CD), hanya terjadi jika terjadi kontak yg sempurna antara fluida kerja dengan salah satu dari dua reservoir (dingin/panas)
    • Adiabatic (segmen BC dan DA), hanya terjadi ketika ada isolasi sempurna antara fluida kerja dengan lingkungan luar termasuk dengan kedua reservoir.

Jadi memang idenya harus ada upaya untuk menjadikan dunia yg penuh friksi ini menjadi frictionless. Dan sepertinya untuk itu perlu energi tambahan pula..

Upaya Agar Effisiensi > 1?

Seluruh upaya rekayasa untuk peningkatan effisiensi dilakukan untuk mendekati konseptualisasi yg ideal itu (Eff=1). Ya karena effisiensi itu sendiri ekspresi manusia dalam mencerna hal yg demikian.

Dari ekspresi matematis nya saja agaknya manusia sangat tidak mengizinkan effisiensi itu lebih dari satu, itu sama halnya dengan memaksakan sebuah logika bahwa temperatur tinggi itu lebih rendah dari temperatur rendah.

Jadi ada penyataan logika yg salah bahwa, “tinggi” lebih rendah daripada “rendah”. Sungguh melanggar logika dasar (logika non kontradiksi) yang telah tertanam di kepala semua manusia.

Menginginkan eff diatas satu berarti harus melakukan upaya bukan hanya menghilangkan friksi, akan tetapi menghadirkan lawan dari friksi itu, tarolah saya kasih nama ‘inisiatif‘ hehe.. kalo friksi itu menghambat, kalo inisiatif itu malah membantu, mungkin pencariannya (atau pengkhayalannya :P ) bisa pada proses lubrikasi.

Kalo selama ini kita mencari pelumas yg sangat baik untuk mengurangi friksi. Maka jika kita menginginkan eff > 1 harus dicari pelumas yg tidak hanya mereduksi friksi, akan tetapi juga pelumas yg punya inisiatif membantu proses yg sedang terjadi atau sebut saja advance lubricant.

Sesuatu yang hanya pantas masuk ke alam khayalan, Karena mungkin sifat ilmu fisika yang constraint nya sangat materialistik tidak akan punya kerangka yg cukup buat mencerna ini. Kalau mau agaknya kita harus menggeser epistemologi dari dunia fisika ke dunia metafisika :P .

Dan kalaupun fenomena ini ada, lahir pertanyaan mendasar berikutnya… Benarkah alam semesta ini masih harmonis dan seimbang dengan adanya makhluk yang bernama “inisiatif” ini? Sulit kita membayangkan fakta (baca : kekacauan) seperti apa yang akan kita saksikan

Tentang Sunnah Kauniyah

Mungkin saya terlalu gegabah ketika berani berbicara bahwa obsesi menginginkan effisiensi 300% itu melanggar sunnah kauniyah, Tapi emang effisiensi itu bukan sekedar konsep fisika dan matematika an sich, Dia itu melibatkan cara manusia mempersepsi realitas-realitas disekelilingnya, bahkan mungkin juga melibatkan prespektive kemanusiaan yang memiliki dimensi sosial. Sehingga variabel ini menjadi variabel fisika yang paling sering beririsan dengan motif ekonomi manusia.

Agaknya kita perlu membedakan mana obsesi-obsesi manusia yang punya pijakan ilmiah, dan mana yang sekedar mitos atau khayalan abadi. Yang khayal itu selamanya mungkin hanya akan jadi khayal. Para fisikawan, dari sejak dulu sampai sekarang selalu disibukkan dengan pencarian dua essensi besar, yaitu hakikat materi dan energi, sebagaimana para pemimpi juga puyeng merumuskan khayalan yang –juga– sangat kompleks seputar materi dan energi hehe

Saya memahami sunnah kauniyah itu sebagai sebuah setup pada ruang bermain (playing field) yang disediakan Allah SWT untuk manusia, atau secara lugas bisa disebutkan kaidah-kaidah alamiah yg berlaku di alam dunia, alam tempat ditakdirkannya manusia untuk berkiprah. Ya disini ini tempat bermain kita. Di alam materi, Di alam yg penuh friksi.

Welcome!

Allahu’alamu

-Yugi-

Baca Juga

12 Responses to “Efisiensi Konversi Energi”

  1. 1
    b oe d Says:

    Akur mas Yugi. Jadi inget mas2 kuliah Termo dan Perpindahan Panas [dosen: Pak Filino].

    wassalam
    boed

  2. 2
    b oe d Says:

    Tambahan dikit mas yugi,

    |Mesin yang memiliki eff = 1 ini dinamakan mesin |Carnot.

    Seingat saya, mesin Carnot adalah mesin ideal dan sifatnya teoritis. Eficiency mesin Carnot mengikuti persamaan yg anda tulis tadi:
    Eff = (Th – Tc)/Th = 1 – Tc/Th;
    yg pastinya lebih kecil dari pada 1.

    Mesin yg ada di dunia nyata akan memiliki efisiensi di bawah mesin ideal Carnot.

  3. 3
    iwan yudi karyono Says:

    Saya suka orang yang suka tantangan, termasuk yang berpikiran bagaimana efisiensi dapat >1. Saya sudah memikirkannya sejak tahun 2005. Kok sepertinya ada celah untuk itu. Tapi kok sampai sekarang, ya belum ketemu juga :D

  4. 4
    Yugi Says:

    Tambahan dikit mas yugi,

    Seingat saya, mesin Carnot adalah mesin ideal dan sifatnya teoritis. Eficiency mesin Carnot mengikuti persamaan yg anda tulis tadi:
    Eff = (Th – Tc)/Th = 1 – Tc/Th;
    yg pastinya lebih kecil dari pada 1.

    Mesin yg ada di dunia nyata akan memiliki efisiensi di bawah mesin ideal Carnot.

    Iya Mas Budi, mesin Carnot adalah konseptualisasi mesin ideal.. konseptualisasi digunakan untuk mempermudah dan menyederhanakan perhitungan.

  5. 5
    Iwan Yudi Karyono Says:

    #1 dan #2

    Bud, ini Budi yang mana??? Budi 97 atau Budi 2000??? :D he he he

  6. 6
    anton Says:

    A55…..
    Afwan ma5… salam Kenal saya Anton Mahasiswa kimia Unsoed’07

  7. 7
    Yugi Says:

    Allaykumsalam Wr. Wb.
    Salam kenal juga Mas Anton

  8. 8
    hendra leonar Says:

    Artikel yang bagus dan menarik, jadi mohon izin sebelumnya, artikel ini kami masukkan juga ke website universitas bangka belitung dengan tetap menyebutkan nama penulis dan URL asalnya dari sini, terimakasih yach artikelnya.
    Wassalam
    http://www.ubb.ac.id

  9. 9
    Uya Says:

    entah kelas berapa (SMP atau SMA ya?) saya berkenalan dengan mesin ini. waktu itu tak satu pun persamaan2 itu yang singgah di kepala saya. saya cuma ingat sama satu hal: konsep mesin ini tidak mungkin diaplikasikan, ia “ideal” semata (ideal dalam arti sebaik-baiknya, dan juga ideal dalam arti ‘hanya mungkin di alam ide’)… terima kasih banyak mas Yugi.. tulisan Anda sangat membantu saya

    saya cuma paling suka bagian yang “Di alam yg penuh friksi” itu…. he he

    kalau ada yang kerjanya khusus merumuskan yang ideal-ideal, mungkin di lain pihak ada yang kerjanya sebaliknya ya?; khusus membuat konsep untuk membedah hal-hal yang ‘friksional’ itu. maksudnya, jika Galileo mengatakan bahwa semua benda jatuh akan sampai ke bumi dalam tempo yang sama (menafikan beda friksi kedua benda itu dengan udara), maka Bernoulli justu sibuk menjadikan bagian friksi itu sebagai fokus amatannya (dan selanjutnya, terutama kita yang hidup sebagai juga bagian dari abad 20 lalu, masa-masa puncak perkembangan teknologi penerbangan?, bisa menikmati hasil pengamatannya itu)…

    yang paling mengagumkan saya adalah Anda membawanya sampai ke sikap tawadhu.. ‘sunnah kauniyah’ (yang terakhir ini sebenarnya aku gak ngerti.. padahal ceritanya aku ini muslim). jangan-jagan mirip dengan gagasannya Heidegger soal gelassenheit ya?..

    terima kasih mas..
    sori komentar saya panjang.. saya sangat merasa terbantu karena pemilahan soal Galileo dan Bernoulli tadi baru benar-benar saya anggap ketemu setelah membaca ungkapan Anda “dunia yang penuh friksi” itu.. selama ini saya hanya merasa-rasa bahwa terdapat satu hal mendasar yang membedakan mereka, tapi belum tahu itu apa

    saya peminat filsafat mas…

    salam kenal ya…

    makasih

  10. 10
    Yugi Says:

    Salam kenal Juga Mas Uya

  11. 11
    berita indonesia Says:

    postinganya keren, bisa saya taruh ga artikel ini di website saya? nanti saya link balik sumbernya

  12. 12
    Yugi Says:

    Boleh Mas, silahkan..

Leave a Reply