Sains Empirik, dan Budaya Pembuktian

Catatan : Tulisan ini ditulis sebagai komentar atas tulisan Priyadi tentang Hukum Kekekalan Energi
——
Sejak manusia ditakdirkan untuk hidup di alam materi, sejak itu pula lah misteri akan materi (dan energi) menyelimuti rasa penasaran manusia.
Sebelum era sains empirik, manusia mempersepsikan alam semesta (baca: materi) dengan berbagai cara, dari mulai cara tahayul yang sulit dipertanggungjawabkan hingga melalui penalaran (filsafat) yang mulai mencoba mengurai unsur-unsur yang membangun semesta.
Pada era ilmuwan muslim, klaim-klaim kebenaran tentang semesta mulai dipertanyakan kebenarannya dan dituntut buktinya, hingga sesuatu klaim/teori/hipotesis dapat divalidasi sebagai “benar” setelah terbukti secara empiris. Sejak ini pula lah sains empirik materialistik mulai menemukan prospeknya.
Makanya kita mengenal dalam metoda ilmiah, selalu ada tahap yang bernama eksperimen, hal tersebut untuk menguji dan sekaligus memvalidasi apakah sebuah hipotesis dapat diakui kebenarannya atau tidak.
Sejarah Model Atom
Penggambaran ini dapat kita nikmati misalnya dengan membaca sejarah manusia dalam memodelkan Atom dari sejak Democritus, Dalton, Thompson, Rutherford dst dst.
Apa yang mereka ajukan adalah model tentang atom, sejauh apa model tersebut diyakini kebenaranya? Tidak ada yang tahu! bahkan si ilmuwan yang bersangkutan sekalipun. Yang bisa dilakukan adalah mendekati kebenaran berdasarkan fakta-fakta eksperimental. Siapa yang paling mendekati kenyataan empirik, maka teorinya lah yang dianggap mendekati kebenaran.
Sama halnya dengan pembenaran melalui eksperimen, penyangkalan (falsifikasi) terhadap sebuah teori juga bisa dilakukan melalui eksperimen, seperti isu di seputar pemodelan ttg alam semesta antara Newton yang mekanistik yang kemudian difalsifikasi oleh model Einstein yang relativistik di kemudian abad.
Dalam konteks ini lah saya mendukung sikap skeptis nya Bung Priyadi untuk menuntut bukti empirik, bahkan lebih dari itu menuntut perumusan akan hipotesisnya sendiri yang sampai saat ini masih tersamar, entah karena dari sumber awalnya tersamar atau karena hasil pengolahan media yang membuat gagasannya menjadi tersamar.
Disisi lain apresiasi juga tetap perlu diberikan kepada setiap niat dan upaya positif untuk merumuskan solusi atas krisis energi yang sedang kita alami.
Di samping juga rasa berbaik sangka kepada Pak Joko, mungkin saja beliau bukan berasal dari komunitas ilmiah sehingga tidak terlalu mengerti ataupun perhatian terhadap metodologi saintifik ini.
Karena jika demikian adanya, jangan sampai pertanyaan-pertanyaan skeptik khasnya akademisi ini malah memadamkan asa orang biasa ini sehingga pada gilirannya memperbesar jurang psikologis dari elemen2 lain yang non-akademisi untuk masuk kedalam isu-isu sains yang bukan tidak mungkin mereka membuat gagasan terobosan yang bermanfaat untuk kemanusiaan.
wallahu’alam..
Salam..




July 31st, 2008 at 9:28 am
Artikel yang bagus dan menarik, jadi mohon izin sebelumnya, artikel ini kami masukkan juga ke website universitas bangka belitung dengan tetap menyebutkan nama penulis dan URL asalnya dari sini, terimakasih yach artikelnya.
Wassalam
http://www.ubb.ac.id